Ang orihinal na artikulo o pinagkunan makikita dito
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Friday, May 11, 2012
Sunday, April 8, 2012
Kenapa Ada Saku kecil Di Celana Jeans, Ini Rahsianya
Sebagai jenis tekstil, jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia tahun 1560-an. Kain celana ini biasa dipakai oleh angkatan laut. Orang Prancis menyebut celana ini dengan sebutan “bleu de Génes”, yang berarti biru Genoa. Meski tekstil ini pertama kali diproduksi dan dipakai di Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang mengadu peruntungannya ke San Francisco sebagai pedagang pakaian. Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas.
Akan tetapi, sampai di California semua barangnya habis terjual, kecuali sebuah tenda yang terbuat dari kain kanvas. Kain kanvas ini dipotongnya dan dibuatnya menjadi beberapa celana yang dijual pada para pekerja tambang emas. Dan ternyata para pekerja menyukainya karena celana buatan Strauss tahan lama dan tak mudah koyak. Merasa mendapat peluang, Strauss menyempurnakan “temuannya” dengan memesan bahan dari Genoa yang disebut “Genes”, yang oleh Strauss diubah menjadi “Blue Jeans”.
Di sinilah para penambang tambah menyukai celana buatan Strauss dan “menobatkan” celana itu sebagai celana resmi para penambang. Para penambang emas itu menyebut celana Strauss dengan “those pants of Levi`s” atau “Celana Si Levi”. Sebutan inilah yang mengawali merek dagang pertama celana jeans pertama di dunia.
Naluri bisnis Strauss yang tajam membuatnya mengajak pengusaha sukses Jakob Davis untuk bekerja sama, dan pada tahun 1880 kerja sama itu melahirkan pabrik celana jeans pertama. Dan produk desain mereka yang pertama adalah “Levi`s 501″.
Produk desain pertama memang dikhususkan bagi para penambang emas. Celana ini memiliki 5 saku, 2 di belakang dan 2 di depan, dan 1 saku kecil dalam saku depan sebelah kanan. Karena diperuntukkan bagi para penambang, saku ini tentu bukan untuk bergaya-ria. Tetapi saku imut-imut ini dirancang untuk menyimpan butiran-butiran emas yang berukuran kecil. Meski kini jeans diproduksi dalam berbagai merek dan bukan hanya untuk para penambang, tetapi saku imut-imut itu tetap ada. Tentu saja fungsinya bukan sebagai tempat menyimpan butiran emas.
Ang orihinal na artikulo o pinagkunan makikita dito
Thursday, April 5, 2012
Awal Mula Kenapa Ada Prostitusi Atau Pelacuran Di Indonesia

Pel4curan telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah.
Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.
Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan.
Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana.
Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tert entu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota.
Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2).
Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, at al. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti memperce pat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir.
Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tid ak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).
Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull; 1997:3). Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara.
Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu.
Perkimpoian antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).
Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati par a perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan âbaik-baikâ.
Pada tahun 1650, âpanti perbaikan perempuanâ (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan âtanpa izinâ menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toler ansi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).
Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai âwanita publikâ menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852.
Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphi lis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).
Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil.
Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbeda an antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri.
Ang orihinal na artikulo o pinagkunan makikita dito
Tuesday, March 20, 2012
Penyebab Email Selalu Pake Huruf ( @ )

Tahun 1971 menjadi momen yang sangat penting bagi perkembangan internet. Pada tahun itu, seorang ahli bernama Roy Tomlinson berhasil menciptakan surat elektronik atau disebut dengan e-mail. Istilah e-mail ini merupakan gabungan dari dua kata, yakni electronic yang berarti eletronik dan mail yang berarti surat. Temuan ini disempurnakannya pada tahun 1972.
Pada prinsipnya, surat elektronika ini mirip dengan surat-menyurat lewat pos. Bedanya, bentuk surat yang dikirim lewat jaringan ini bukan berupa selembar kertas yang terbungkus amplop. Surat elektronika ini berupa data digital yang bisa berupa huruf, gambar, maupun suara.
Layaknya proses surat-menyurat, dalam surat elektronika ini juga diperlukan alamat pengirim maupun penerima. Satu tanda yang sangat khas dalam penulisan alamat e-mail ini adalah simbol @ atau dibaca at yang berarti di (awalan untuk menunjukkan tempat) atau pada. Simbol ini juga diperkenalkan oleh Tomlinson.
Untuk bisa surat-menyurat secara elektronik, pengirim maupun penerima surat harus memiliki kotak surat yang terdaftar di internet. Alamat dalam surat elektronika ini sebenarnya melekat pada kotak surat itu. Untuk bisa membuka kotak surat, sang pemilik harus memiliki kode rahasia yang disebut password. Dengan kode rahasia ini orang yang buan pemilik kotak surat tidak akan bisa membukanya.
Ang orihinal na artikulo o pinagkunan makikita dito
Sunday, March 11, 2012
Kumpulan Bahasa Gaul Dari Jaman Dahulu
Bahasa Gaul merupakan bahasa anak-anak remaja gaul yang biasa digunakan sebagai bahasa sandi. Bahasa ini mulai dikenal dan digunakan sekitar tahun 1970. Awalnya bahasa ini dikenal sebagai "bahasanya anak jalanan / bahasa preman" karena biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri. Belakangan bahasa ini menjadi populer dan banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain karena sering digunakan oleh para remaja untuk menyampaikan suatu hal secara rahasia (tanpa diketahui guru dan orang tua mereka), juga banyaknya media (televisi, radio, film, majalah, dan lain-lain) yang menggunakan kata-kata itu, sehingga bahasa gaul menjadi sangat populer.
Saturday, December 3, 2011
Saat Maradona Membantai Garuda Muda ( 1979 )
MUNGKIN tak banyak yang mengetahui jika Timnas Indonesia Junior pernah mencicipi kerasnya atmosfer persaingan di level kejuaraan sepak bola tingkat dunia.
Momen tersebut terjadi saat Timnas Garuda Muda mendapat “wild card” ke putaran final Piala Dunia U-20 di Jepang pada tahun 1979.
Pada tahun 1979, Timnas junior Indonesia sebenarnya gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia Junior FIFA. Saat itu Skuad Garuda Muda hanya mampu finish di peringkat tiga pada babak kualifikasi Piala Dunia Junior FIFA.
Sedangkan zona Asia hanya memiliki tiga jatah tiket ke putaran final. Satu dipegang oleh Jepang selaku tuan rumah penyelenggara. Dua tiket lainnya dipegang Korea Selatan dan Korea Utara yang sukses menembus putaran final lewat jalur kualifikasi zona Asia. Namun karena alasan politis Korea Utara mundur dari kejuaraan dan Indonesia ditunjuk jadi pengganti.
“Sebetulnya kita tidak lolos kualifikas zona Asia. Kita waktu itu ada di peringkat tiga. Satu dipegang oleh Jepang dan posisi duanya Korea Utara,” ungkap salah satu anggota skuad Garuda Muda di Piala Dunia Junior FIFA 1979, Bambang Nurdiansyah saat ditemui persibholic.com di Hotel Aston Braga, Kamis (1/12/2011).
Saat itu Korea Utara menyatakan mundur dari putaran final Piala Dunia Junior FIFA karena merasa tidak nyaman dengan sponsor utama gelaran tersebut, yaitu Coca Cola yang sangat identik dengan musuh mereka yaitu Amerika Serikat.
“Korea Utara mundur, soalnya sponsor kejuaraanya Coca Cola yang sangat identik dengan musuh ideologi mereka yaitu Amerika,” ujar Bambang.
Jadilah Garuda Muda maju ke putaran final Piala Dunia Junior FIFA 1979 di Jepang. Sebuah kesempatan emas untuk mengepakan sayap sang Garuda di level dunia.
Namun bukan berarti perjalanan skuad Garuda di putaran final Piala Dunia Junior FIFA akan berjalan mulus. Dalam babak penyisihan, Timnas Indonesia Junior tergabung dalam grup maut bersama Argentina, Yugoslavia dan Polandia.
“Kita waktu itu kebagian grup maut, penghuninya Argentina, Yugoslavia dan Polandia,” kenang Bambang.
“Waktu itu di Timnas Argentina Junior ada nama yang cukup mencolok, yaitu Diego Armando Maradona. Waktu itu namanya belum sefenomenal sekarang, tapi kita sudah tahu siapa Maradona. Dia masih muda, 17 tahun, tapi sudah ikut Timnas senior Argentina. Bahkan waktu Argentina uji coba lawan Belanda, Maradona sudah ikut main, jadi pemain inti dan menunjukan permainan yang bagus,” lanjutnya.
Jelang pertandingan kontra Argentina, bukanya melakukan psy war dengan kubu lawan, para pemain Garuda Muda justru memburu Maradona untuk berfoto bareng dengan sang legenda sepak bola dunia tersebut. Ulah para Garuda Muda tersebut sontak membuat sang Pelatih, Sutjipto Suntoro (alm) berang.
“Belum main saja sudah foto bareng. Sampe Pelatih almarhum Sucipto Suntoro sempet bilang kaya gini, ‘gimana dia kan besok lawan kalian. Sekarang malah foto-foto bareng, belum apa-apa udah kalah’,” kenang arsitek Persiram Raja Ampat tersebut sambil terkekeh.
Teguran sang legenda sepak bola Indonesia kepada anak asuhnya ternyata benar-benar terbukti. Keesokan harinya saat berlaga menghadapi Argentina, Garuda Muda harus mengakui keunggulan Maradona cs, 5 gol tanpa balas di Stadion Omiya, Jepang, 26 Agustus 1979.
Dari lima gol Tim Tango ke gawang Indonesia yang dikawal Endang Tirtana, dua gol diantaranya dicetak El Pibe de Oro atau Sang Dewa –julukan Maradona-.
Selain kalah telak 5 gol tanpa balas dari Argentina, dua penghuni grup lainya yaitu Polandia dan Yugoslavia juga pernah membuat sang Garuda tertunduk lesu.
Dalam babak penyisihan grup, Polandia menghabisi Garuda Muda dengan skor 5-0. Sedangkan Yugoslavia membantai Garuda Muda setengah lusin gol tanpa balas.
“Kalahnya ga pernah dibawah lima, Yugoslavia malah sampai 6-0. Pulang deh Indonesia. Tapi ini level dunia dan itu salah satu sejarah bahwa usia muda kita berlaga di tingkat dunia,” pungkasnya.
Argentina bersama Maradona saat itu akhirnya keluar sebagai juara FIFA World Cup U-20 usai mengandaskan Uni Soviet 3-1 di laga puncak.
Sekadar diketahui muncul kepercayaan jika para pemain yang pernah merasakan gelar juara ajang FIFA World Cup U-20, kelak ketika berkiprah di level senior juga akan mencicipi gelar juara dunia.
Hal itu juga berlaku ketika Maradona selang 7 tahun usai membawa Argentina juara Piala Dunia U-20 sukses menghantarkan pasukan Tango meraih gelar Piala Dunia 1986 yang dilaksanakan di Meksiko.
Ang orihinal na artikulo o pinagkunan makikita dito
Subscribe to:
Posts (Atom)







